September 2008 Awalnya aku bingung memilih rumah sakit tempat aku menjalani radioterapi. Ada beberapa rumah sakit yang memiliki mesin radioterapi di Jakarta, antara lain : RSCM, RS Kanker Dharmais, RS Gatot Subroto, RS Pertamina (lainnya saya belum tahu). Rujukan yang dokter Siloam berikan adalah RS Gatot Subroto. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan ke RS Gatot Subroto(RSGS).
Ruang tunggu pasien radioterapi di RSGS cukup luas dan ber-AC. Di sekeliling ruangan ada sofa cukup panjang, ditengah ruangan ada aquarium ikan laut yang ukurannya lumayan besar.
Ada dua pilihan jenis radioterapi di RSGS, dengan Cobalt dan Linac. Untuk Cobalt biayanya 1 paket radioterapi kurang lebih Rp. 12.000.000,- , sedangkan linac lebih mahal biayanya 1 paket kurang lebih Rp. 16.500.000,-.
Pemilihan jenis radioterapi ini ditentukan oleh dokter spesialis radioterapi.
Sebenarnya di RSGS menerima Askes, tapi karena aku belum punya kartu Askes, sementara aku harus segera menjalani terapi ini, akhirnya bayar tanpa askes.
Pada hari pertama, aku diperiksa dokter spesialis radioterapi. Setelah menjelaskan kronologis penyakitku, dokter memeriksaku dan kemudian mencoret-coret badanku dengan spidol untuk memberi tanda area sinar.
Setelah selesai, suster mengoleskan cairan pada tanda area supaya tidak cepat hilang.
Pada hari itu juga, aku diminta ke ruang CT Scan. Petugas CT Scan menempelkan plester di beberapa titik di area sinar. Dengan CT Scan ini, area sinar direkam supaya penyinaran lebih akurat.
Aku jalani radioterapi selama 30 hari (25 hari di area mastectomy, punggung kanan atas, leher dan 5 hari ekstra di leher).
Pelaksanaan radioterapi berlangsung kurang lebih 10 menit (termasuk persiapan). Yang membuat lama adalah antrinya.
Ternyata tidak sedikit orang yang bernasib sama denganku. Ada yang menderita kanker kelenjar getah bening, kanker rahim, kanker leher rahim dan lain-lain.
Di RSGS, aku jadi mendapat kenalan dan lingkungan baru. Bu Hamrah, orang makassar yang menderita kanker kelenjar getah bening, cukup akrab denganku. Sejak berkenalan di pemeriksaan awal radioterapi, kami jadi suka sharing dan saling support.
Mungkin inilah salah satu hikmahnya selama menjalani terapi ini.
Kemoterapi pertama (First line Chemo) telah kujalani. Perjuangan demi perjuangan kucoba jalani. Aku hanyalah manusia biasa, saat kanker menyapaku, aku begitu rapuh. Aku terus belajar dan terus belajar memahami hikmah dibalik ujian yang Allah berikan. Aku tahu skenario Allah tak pernah buruk untukku.
First Line Chemo kujalani di RS Siloam kebon Jeruk. Dengan pengetahuan seorang awam, aku serahkan pengobatan kankerku pada seorang dokter bedah. Dokter bedah ini sebenarnya sangat baik dan kompeten di bidangnya. Tapi ternyata dokterku itu masih kurang jam terbangnya dalam pengobatan kanker.
Kemoterapi pertama yang kujalani dibagi 6 cycle. Untuk meringankan beban sel normal akibat efek kemoterapi, dokter menjadwalkan kemoterapi dalam 12 sesi, jadi masing-masing cycle dibagi 2, a dan b. Dengan obat kemo CMF (Cyclophosphamide, Methotrexate, Fluoracil) + Anthracyclin (Epirubicin).
Pada awal kemoterapi aku merasakan mual bahkan muntah. Dua kali kemo sudah cukup membuat rambutku habis. Daripada rontok dimana-mana, kuminta ibuku untuk mencukur habis rambutku.
Alhamdulillah, keluargaku menerimaku apa adanya. Pada awalnya aku sendiri harus membiasakan diri dengan wajah gundulku. Aku khawatir anak-anakku akan takut melihat mamanya gundul, tapi Alhamdulillah, anak-anakku sama sekali tidak takut dan malah kadang dibuat “guyon” saja. Kadang aku dan anakku malah menyanyi gundul-gundul pacul, sambil ketawa-ketawa supaya anak-anakku terbiasa dengan mamanya yang gundul.
Fira, yang berumur 2,5 tahun (saat awal aku terdeteksi kanker) sangat mengerti mamanya. Dia tahu aku tidak bisa menggendong lagi padahal di usianya yang 2,5 tahun itu masih ingin digendong mamanya. Katanya “Mama nggak bisa gendong, mama sakit. Jalan aja” dengan bahasanya yang lucu.
Kadangkala kupandang dan kupeluk kedua anak-anakku disaat mereka tidur, tak terasa air mata menetes, Ya Allah, aku ingin hidup, aku tak ingin mereka kehilangan kasih sayang ibu kandungnya.
Di pertengahan cycle, ada kejadian yang tak terduga. Karena leukositku turun menjadi 2300, aku demam sampai akhirnya dirawat di RS selama 4 hari. Seminggu setelah itu, vena ditangan kiriku mulai terasa nyeri. Tangan kiriku bengkak dan melepuh karena ekstravasasi ( pecahnya pembuluh darah pada saat injeksi, sehinggga obat kemo merembes keluar dan mengakibatkan pembengkakan ). Rasanya bukan main sakitnya, aku jadi tergantung dengan obat pereda sakit.
Pernah saat melepuh itu, oleh dokter bagian melepuh itu disedot dengan suntikan untuk melihat apakah berisi nanah atau air. Alhamdulillah hanya air. Satu bulan aku recover dari bengkak akibat ekstravasasi.
Akibat tanganku yang bengkak ini, jadwal kemo jadi ditunda cukup lama. Dokter pun mengurangi dosis obat karena khawatir terhadap dampaknya pada kondisi fisikku. Mungkin inilah yang menyebabkan recurrence (kanker tumbuh lagi) di dalam masa kemoterapi.
Pada saat mandi tanpa sengaja, aku merapa ada benjolan sangat kecil dibawah scar mastektomi. Aku laporkan pada dokterku pada saat kemo 11. Dokter memutuskan untuk melakukan biopsi dengan melakukan operasi kecil. Satu hari setelah kemo, Aku masuk ke ruangan operasi lagi. Agak takut awalnya, tapi lama-lama aku bisa mengontrol diri bahkan saat operasi aku masih bisa ngobrol dengan dokter.
Sayangnya, keesokan harinya dokter menginformasikan bahwa hasil PA menunjukkan benjolan tersebut positif Carcinoma Duktal Invasif grade 3 dengan ekspresi seperti orang putus asa. Astaghfirullahal Azhiim…..
Dokter memintaku untuk melanjutkan pengobatan dengan radioterapi. Aku dirujuk ke RS Gatot Subroto. Dokter juga memberiku resep tamoxifen, namun hingga kini aku belum menembus obatnya karena aku memutuskan untuk mencari dokter onkologi yang benar-benar dapat membantu pengobatanku.



